Arsip

Archive for Maret, 2010

PENGARUH KEGIATAN PERTANIAN DALAM ASPEK SOSIAL, EKOLOGIS DAN SOSIO-EKOLOGIS TERHADAP PENGELOLAAN KAWASAN DI TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT

31 Maret 2010 1 komentar

PENGARUH KEGIATAN PERTANIAN DALAM ASPEK SOSIAL, EKOLOGIS DAN SOSIO-EKOLOGIS TERHADAP PENGELOLAAN KAWASAN DI TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT

Oleh Marwa Prinando

Mahasiswa Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor


Taman Nasional menurut aturan yang berlaku (UU No. 5/1990, Keppres No. 3t2/1990, PP No. 68/1998) merupakan kawasan pelestarian alam yang memiliki ciri-ciri khas dan berfungsi sebagai pelindung ekosistem yang menyangga sistem kehidupan. Taman nasional dikelola dengan sistem zonasi yang ditujukan untuk rekreasi, pendidikan dan penelitian. Faktanya, keberadaan taman nasional sering kali menimbulkan tanda tanya bagi masyarakat lokal dan pemerintah kabupaten. Secara umum arti, maksud dan tujuan penetapan taman nasional masih kurang dipahami. Kondisi ini seakan memperkuat argumentasi aktivitas masyarakat, seperti pembakaran lahan, penebangan liar, dan perubahan tata guna lahan di beberapa taman nasional di Indonesia (Anshari, 2006). Akivitas masyarakat tersebut diduga juga menjadi permasalahan utama dalam pengelolaan di taman nasional di indonesia, tidak terkecuali Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Kawasan TNKS merupakan ekosistem penting secara ekologi maupun ekonomi. Secara ekologi di dalam kawasan ini terdapat jenis-jenis flora dan fauna yang dilindungi seperti Harimau Sumtra (Panthera tigris sumatrae), pinus kerinci (Pinus merkusii strain Kerinci), dan bunga bangkai (Amorphophallus titanum). Secara ekonomi di dalam kawasan ini juga terdapat beraneka ragam tumbuhan, baik kayu ataupun non kayu yang dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai tumbuhan obat, tanaman hias, tumbuhan aromatik, dan tumbuhan penghasil pangan (Frankistoro, 2006). Selain itu, manfaat ekonomi yang diperoleh dari kawasan ini juga berasal dari kegiatan pertanian. Pemanfaatan kegiatan pertanian dalam kawasan konservasi ini akan memberikan pengaruh terhadap pengelolaan kawasan. Pengelolaan kawasan yang dimaksud sedikitnya meliputi aspek sosial, ekologis, dan sosio-ekologis.

Baca selengkapnya…

Kategori:karya ilmiah Tag:

PENGELOLAAN PAKAN BADAK JAWA (Rhinoceros sondaicus) DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON (TNUK)

30 Maret 2010 2 komentar

PENGELOLAAN PAKAN BADAK JAWA (Rhinoceros sondaicus)

DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON (TNUK)


Marwa Prinando, Muthia Sri Rahayu, Seruni Dyah Kerta Wiji, Rinai R. Rinjani, R. Faid Abdul Manan

Mahasiswa Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor


Abstrak

Pengelolaan satwa liar merupakan suatu proses kompleks yang saling terkait. Kompleksnya komponen pengelolaan satwa liar dapat dilihat dari pengelolaan pakan, kesehatan, habitat, dan populasi satwa tersebut. Antar komponen pengelolaan tersebut merupakan unsur-unsur penting dalam pengelolaan satwa liar di alam. Badak jawa (Rhinoceros sondaicus) merupakan mamalia herbivora. Satwa ini merupakan satwa endemik jawa, yang hanya dapat dijumpai di Taman Nasional Ujung Kulon TNUK), Jawa Barat. R. sondaicus tidak  memakan semua tumbuh-tumbuhan yang ada di  TNUK, ada preferensi pemilihan pakan dan palatabilitas pakan satwa tersebut, sehingga hanya tumbuhan tertentu saja yang dimakan oleh satwa ini. Berdasarkan pembahasan yang diperoleh dari hasil pencarian terhadap berbagai referensi diketahui bahwa pengelolaan pakan R. sondaicus dipengaruhi oleh kondisi habitat satwa tersbut di TNUK, selain itu aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam pengelolan pakan satwa ini diantaranya; jenis pakan, kebutuhan pakan, ketersediaan pakan, dan teknik pengelolaan pakan yang terdiri dari Pembangunan rumpang dengan penebangan Langkap dan Pengkayaan jenis tumbuhan pakan.

Baca selengkapnya…

Kategori:jurnal Tag:

Regenerasi Kepemimpinan: Suatu Proses Pembelajaran yang lahir atau melahirkan sejarah

25 Maret 2010 2 komentar

Regenerasi Kepemimpinan: Suatu Proses Pembelajaran yang lahir atau melahirkan sejarah

Oleh Marwa Prinando

Dalam  peradaban manusia selalu dijumpai dua hal, sejarah melahirkan pemimpin atau pemimpin melahirkan sejarah. Dengan kata lain, pemimpin dapat lahir karena sejarah, dan pemimpin juga dapat melahirkan sejarah. Sejarah, merupakan jenak dan jejak yang dilewati manusia, rangkaian jenak dan jejak ini akan selalu menjadi titik-titik  dan buih-buih peristiwa dalam lautan sejarah. Sejarah yang melahirkan pemimpin adalah sejarah yang memiliki nilai dalam sebuah peradaban manusia, sementara pemimpin yang melahirkan sejarah adalah manusia yang meletakkan nilai dalam peradaban manusia.

Baca selengkapnya…

Kategori:opini Tag:

Bernyayi tentang Konservasi di Gunung ini

Bernyayi tentang Konservasi di Gunung ini

Oleh Marwa Prinando

Hamparan villa terbentang di sepanjang gunung, bertengger kokoh di bibir tebing. Sebuah ironi  tentang kawasan konservasi di negeri ini. Menjadi kawasan konservasi sudah tentu bukan kehendak dari gunung ini, dan tinggal di kawasan konservasi juga bukan kehendak dari masyarakat di sini. Akan tetapi, gunung ini, adalah kawasan konservasi, paling tidak untuk saat ini.  Sebuah istilah –kawasan konservasi– yang dibuat oleh manusia sendiri. Sebuah istilah dengan tujuan kesejahteraan manusia itu sendiri dan memungkinkan juga berguna untuk kesejahteraan makhluk hidup lain selain manusia. Memang menjadi polemik tersendiri ketika berbicara menganai masyarakat dan kawasan konservasi, dan yang sekarang sedang hangat adalah tentang gunung ini.

Baca selengkapnya…

PROYEK PEMBANGUNAN JALAN LADIA GALASKA : ANTARA KONTROVERSI DAN SOLUSI

PROYEK PEMBANGUNAN JALAN LADIA GALASKA :   ANTARA KONTROVERSI DAN SOLUSI

oleh Marwa Prinando

Ladia Galaska merupakan proyek pembanguna jalan yang direncanakan untuk menghubungkan Meulaboh, Jeuram, Takengon, Blangkejeren, Panaron, sampai ke Perlak di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dengan tujuan membuka isolasi masyarakat Aceh di pantai barat terhadap kehidupan ekonomi di pantai timur (Selat Malaka).

Proyek pembangunan jalan yang akan menghubungkan ini ternyata tidak berjalan mulus. ketidaksepahaman mengenai pembangunan jalan ini menjadi pemicu utama. Pemerintah Daerah, terutama Pemda  NAD  menyatakan bahwa pembangunan jalan ini diperlukan untuk membuka akses masyarakat aceh  di pantai barat terhadap kehidupan ekonomi dipantai timur. Disisi lain,  Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan  Non-Government Organization (NGO) lainnya yang concern dengan lingkungan menginginkan proyek ini dibatalkan, dikarenakan pembangunan jalan ini akan menembus kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang didalamnya terdapat hutan lindung, taman buru dan suaka margasatwa.

Baca selengkapnya…

Palestina, Sebuah Tangis Kebanggan dan Darah Kemenangan

Palestina, Sebuah Tangis Kebanggan dan Darah Kemenangan

Oleh Marwa Prinando*

Palestina, menjadi kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kita, sebuah bangsa atau kaum yang teusir dari tanah leluhurnya karena kaum yang tidak punya tanah, kaum yang  ternodai hak azasinya karena kaum yang katanya begitu menjunjung tinggi hak azasi, dan kaum yang rela menyerahkan segenap jiwa raganya untuk membela agamanya, bangsanya, dan tanah airnya dari agresor kaum pembunuh para nabi. Kelaparan, kesengsaraan, atau bahkan kematian adalah rentetan kata yang mungkin terbayang dalam benak kita ketika mendengar kata Palestina. Seolah-olah palestina menjadi cerminan begitu kelam dan suramnya dunia keislaman kita. Ada benarnya memang, tetapi itu tidak selalu benar, karena bagi anak-anak dan pemuda-pemuda palestina, kelaparan, kesengsaraan atau bahkan kematian bukanlah hal yang dapat menyurutkan semangat perjuangan mereka untuk lepas dari kaum pembangkang para nabi. Akan tetapi malah menjadi cambuk untuk terus melemparkan batu di tangan ke wajah kaum pembangkang tersebut, sambil mengumandangkan takbir untuk memuji kebesaran Allah.

Baca selengkapnya…

Kategori:opini Tag:

Apa Kabar Century???

Apa Kabar Century???

Marwa Prinando1 dan Muhammad Ikhsan2

SKANDAL CENTURY dalam beberapa bulan terakhir menjadi isu utama dalam berbagai media baik cetak maupun elektronik.  Century saat ini seakan menjadi tontonan baru yang dibintangi oleh ‘aktor-aktor’ wakil rakyat di panggung senayan. Ironis memang, wakil rakyat yang menjadi harapan rakyat untuk membawa aspirasi rakyat untuk membangun bangsa ini malah beramai-ramai beracting di depan kamera, agar kelihatan menonjol, kelihatan membela rakyat, dan saling bersaing untuk bersilat lidah. Padahal apa yang dibicarakan dalam perdebatan itu terkadang tidak substansial dengan apa yang dibahas.

Baca selengkapnya…

Kategori:opini Tag:
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.