Beranda > karya ilmiah > Aspek-aspek Kegiatan dalam Pemanenan Hutan

Aspek-aspek Kegiatan dalam Pemanenan Hutan

ASPEK-ASPEK KEGIATAN DALAM PEMANENAN HUTAN (Rangkaian Kegiatan Praktikum Mata Kuliah Pemanenan Hutan)

Dalam Rangka Memenuhi Tugas Praktikum

Mata Kuliah Pemanenan Hutan

Disusun oleh :

Marwa Prinando

E34070087

Asisten Praktikum :

Dosen Pembimbing :

Dr. Ir. Ahmad Budiaman, M.Sc

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2010


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Alah SWT atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum yang berjudul “Aspek-aspek Kegiatan Dalam Pemanenan Hutan (Rangkaian Kegiatan Praktikum Mata Kuliah Pemanenan Hutan) ” ini. Penulisan laporan ini merupakan gabungan dari beberapa laporan dan kegiatan praktikum yang dilakukan dari bulan Oktober 2009 sampai Desember 2009, dengan tujuan memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada mahasiswa atau praktikan mengenai aspek-aspek kegiatan dalam  pemanenan hutan.

Banyak hambatan yang penulis hadapi saat penyusunan laporan ini, tetapi berkat motivasi, arahan dan masukan dari oarng-orang di sekeliling penulis, maka laporan dapat terselesaikan. Untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua dosen pengajar mata kuliah pemanenan hutan, terutama Dr. Ir. Ahmad Budiaman, M.Sc., selaku dosen pembimbing praktikum. Beliau  telah membuka pikiran penulis, berkat ajaran, bimbingan dan motivasi yang diberikan. Selanjutnya teman-teman dan pihak-pihak lain yang telah membantu dalam menyelesaikan karya tulis ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Akhir kata, tiada gading yang tak retak, begitu juga dengan laporan ini. Masih banyak yang perlu dikoreksi dan diperbaiki, oleh sebab itu kritik dan saran yang konstruktif sangat penulis harapkan demi perbaikan laporan ini. Penulis berharap tulisan ini dapat berguna bagi kita semua. Amin.

Bogor, Januari 2009

penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………………………. i

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………….. ii

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………………………. iii

DAFTAR TABEL ………………………………………………………………………………….. v

DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………………………………… vi

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………………………. 1

1.1  Latar Belakang ………………………………………………………………………….. 1

1.2  Tujuan ……………………………………………………………………………………… 2

BAB II METODOLOGI PRAKTIKUM …………………………………………………… 3

2.1 Pemetaan Pohon ……………………………………………………………………….. 3

2.1.1 Waktu dan Tempat ……………………………………………………………… 3

2.1.2 Bahan dan Alat ………………………………………………………………….. 3

2.1.3 Prosedur Praktikum …………………………………………………………….. 3

2.2 Perencanaan TPn, Jalan Sarad, dan Arah Rebah Pohon ………………………. 4

2.2.1 Waktu dan Tempat  …………………………………………………………….. 4

2.2.2 Bahan dan Alat ………………………………………………………………….. 4

2.2.3 Prosedur Praktikum …………………………………………………………….. 4

2.3 Simulasi Penebangan ……………………………………………………………………… 5

2.3.1 Waktu dan Tempat ……………………………………………………………… 5

2.3.2 Bahan dan Alat ………………………………………………………………….. 5

2.3.3 Prosedur Praktikum …………………………………………………………….. 5

2.4 Perencanaan Pembukaan Wilayah Hutan ………………………………………….. 6

2.4.1 Waktu dan Tempat ……………………………………………………………… 6

2.4.2 Bahan dan Alat ………………………………………………………………….. 6

2.4.3 Prosedur Praktikum …………………………………………………………….. 6

2.5 Pengukuran Damapak Penebangan ………………………………………………….. 7

2.5.1 Waktu dan Tempat ……………………………………………………………… 7

2.5.2 Bahan dan Alat ………………………………………………………………….. 7

2.5.3 Prosedur Praktikum …………………………………………………………….. 8

2.6 Pengukuran Dampak Penyaradan …………………………………………………….. 9

2.6.1 Waktu dan Tempat ……………………………………………………………… 9

2.6.2 Bahan dan Alat ………………………………………………………………….. 9

2.6.3 Prosedur Praktikum …………………………………………………………….. 9

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN ………………………………………………….. 11

3.1 Pemetaan Pohon ……………………………………………………………………………. 11

3.1.1 Hasil …………………………………………………………………………………. 11

3.1.2 Pembahasan ……………………………………………………………………….. 11

3. 2 Perencanaan TPn, Jalan Sarad, dan Arah Rebah Pohon ……………………… 13

3.2.1 Hasil …………………………………………………………………………………. 13

3.2.2 Pembahasan ……………………………………………………………………….. 15

3.3 Simulasi Penebangan ……………………………………………………………………… 17

3.3.1 Hasil …………………………………………………………………………………. 17

3.3.2 Pembahasan ……………………………………………………………………….. 18

3.4 Perencanaan Pembukaan Wilayah Hutan ………………………………………….. 20

3.4.1 Hasil …………………………………………………………………………………. 20

3.4.2 Pembahasan ……………………………………………………………………….. 20

3.5 Pengukuran Dampak Penebangan ……………………………………………………. 24

3.5.1 Hasil …………………………………………………………………………………. 24

3.5.2 Pembahasan ……………………………………………………………………….. 25

3.6 Pengukuran Dampak Penyaradan …………………………………………………….. 26

3.6.1 Hasil …………………………………………………………………………………. 26

3.6.2 Pembahasan ……………………………………………………………………….. 27

BAB IV KESIMPULAN ………………………………………………………………………… 31

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Kriteria perencanaan pembukaan wilayah hutan ………………………………. 7

Tabel 2 Perencanaan arah rebah pohon dalam penebangan pohon komersil

Dan siap tebang di arboretum Fahutan ………………………………………….. 14

Tabel 3 Ukuran takik rebah, takik balas, dan engsel pada simulasi penebangan .. 17

Tabel 4 Hasil perhitungan parameter jaringan jalan ………………………………………. 20

Tabel 5 Hasil pengukuran dampak penebangan pohon komersil di arboretum Fahutan         24

Tabel 6 Laju infiltrasi di jalan sarad …………………………………………………………… 26

Tabel 7 Laju infiltrasi di bawah tegakan …………………………………………………….. 27

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Metode pengambilan titik contoh dalam pengukuran laju infiltrasi di jalan sarad            9

Gambar 2 Perbandingan perencanaan jalan sarad pada pemanenan RIL dan Konvensional             16

Gambar 3 Laju infiltrasi di jalan sarada dianggap konstan ……………………………. 28

Gambar 4 Laju infiltrasi di bawah tegakan dianggap kosntan ……………………….. 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tuntutan terhadap hasil hutan Indonesia berupa barang dan jasa mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini tak lepas dari terus meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia. Pada hakikatnya banyak faktor eksternal yang mempengaruhi pengelolaan hutan terutama dalam hal pemanenan, seperti perubahan demografi, perubahan persyaratan penggunaan lahan, kekeringan dan kebakaran (Dephut 2004).  Sementara itu keterbatasan sumberdaya hutan untuk memenuhi tuntutan tersebut menjadi kendala utama dalam pengelolaan hasil hutan baik kayu maupun non kayu.

Perhatian terhadap  hutan indonesia menjadi sangat penting demi terjaminnya kapasitas hutan untuk mempertahankan nilai-nilai lingkungan dan penghasil barang dan jasa berupa kayu maupun non kayu secara terus menerus. Mengingat semakin banyaknya tekanan terhadap hutan, baik itu perambahan, ilegal logging, kekeringan, dan kebakaran. Untuk itu diperlukan pengelolan hutan secara lestari yang memiliki metode tepat cara dan tepat guna dengan dampak seminimal mungkin.

Pengelolaan hutan secara lestari baik manfaat maupun fungsinya merupakan tujuan pengelolaan hutan saat ini. Pengelolaan hutan ini pada umumnya dititikberatkan pada sistem pemanenan hasil hutan, terutaman pemanenan kayu. Pemenenan hutan pada dasarnya memiliki prinsip untuk berkomitmen dalam penyedian produk barang dan jasa secara berkelanjutan dan jangka panjang, pemeliharaan keterpaduan lingkungan dalam setiap perencanaan dan penerapannya, dan membuat rencana pemenenan secara komprehensif. Prinspip ini tidak hanya diadopsi di hutan-hutan alam produksi akan tetapi juga hutan produksi dengan sistem  monokultur.

Kegiatan pemanenan hutan mulai dari perencanaan pemanenan termasuk pemetaan pohon, penentuan TPn, penentuan jarak sarad dan arah rebah perencanaan pembukaan wilayah hutan, simulasi penebangan minimal dampak, analisis mengenai dampak terhadap lingkungan pasca penebangan dan penyaradan menjadi sangat penting untuk diketahui. Pengetahuan ini tidak cukup hanya sekedar teoritis, akan tetapi pengetahuan secara praktis juga harus dilakukan. Oleh karena itu diperlukan kegiatan penunjang  dalam bentuk praktikum yang secara khusus membahas setiap subkegiatan dalam pemenenan hutan secara integratif  tersebut.

1.2 Tujuan

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk membahas hal-hal yang terkait dalam kegiatan pemanenan hutan yang meliputi:

  1. Pemetaan pohon
  2. Penentuan Tempat pengumpulan kayu (TPn), jalam sarad, dan arah rebah
  3. Simulasi penebangan
  4. Perencanaan pembukaan wilayah hutan (PWH)
  5. Pengukuran dampak penebangan
  6. Pengukuran dampak penyaradan

BAB II

METODE PRAKTIKUM

2.1 Pemetaan Pohon

2.1.1 Waktu dan Tempat

Praktikum dilakukan di laboratorium pemanenan hutan dan arboretum Fahutan,  Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor pada tanggal 8 Oktober 2009.

2.1.2 Bahan dan Alat

1. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini diantaranya; mm block berukuran 1 m X 1 m (1 buah), kawasan hutan (arboretum Fahutan).

2. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini diantaranya; meteran gulung (2 buah), pita meter (4 buah) , haga meter (1 buah), kompas bidik (1 buah), penggaris (2 buah), pensil warna (1 set), kalkulator (2 buah) dan alat tulis.

2.1.3 Prosedur Praktikum

Langkah-langkah yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:

  1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
  2. Mengukur luasan kawasan arboretum Fahutan dengan menggunakan meteran gulung, yakni mengukur panjang dan lebar kawasan tersebut.
  3. Membagi kawasan arboretum Fahutan ke dalam empat kuadaran atau bagian dengan jarak ditentukan oleh sudut kompas sebesar 450 untuk tiap  sudut kawasan
  4. Menentukan sumbu X dan sumbu Y guna menentukan letak tanaman dalam kawasan
  5. 5. Membagi tanaman ke dalam lima tingkatan tanaman, yakni semai, pancang, tiang dan pohon, dengan kriteria sebagai berikut; 1. semai, tingkat permudaan pohon yang dengan tinggi <1,5 m, 2. pancang, tingkat permudaan pohon dengan tinggi ≥1,5 m dan diameter < 10 cm, 3. Tiang, tingkat permudaan pohon dengan diameter  10 cm sampai dengan 20 cm, 4. Pohon, tingkat permudaan pohon dengan diamter ≥20 cm, dan 5. Pohon siap tebang, pohon dengan diameter ≥30 cm.
  6. Mengukur aspek-aspek pertumbuhan tanaman, meliputi tinggi tanaman, diameter (untuk tingkat tiang dan pohon), lebar tajuk (pohon), jumlah, serta letak tanaman dalam kawasan tersebut
  7. Memetakan kawasan  dalam mm block ukuran 1 m X 1 m dengan isi berupa penyebaran tingkat permudaan pohon, ukuran dimensi, serta letaknya dalam kawasan tersebut
  8. Skala yang digunakan dalam pembuatan peta ini adalah 1: 100

2.2  Perencanaan TPn, Jalan Sarad, dan Arah Rebah Pohon

2.2.1 Waktu dan Tempat

Praktikum dilakukan di laboratorium pemanenan hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor pada tanggal 15 Oktober 2009.

2.2.2 Bahan dan Alat

1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah peta pohon yang telah dibuat pada praktikum sebelumnya (1 buah).

2. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain; penggaris (2 buah), pensil warna (1 set), kurvi meter (1 buah), dan alat tulis.

2.2.3  Prosedur  Praktikum

Langkah-langkah yang dilakukan dalam praktikum ini diantaranya:

  1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
  2. Menentukan letak pohon yang siap tebang (pohon dengan  diameter ≥30 cm
  3. Tempat pengumpulan kayu (TPn) ditentukan di sudut kawasan. Hal ini telah ditentukan oleh pembimbing praktikum, yakni setiap kelompok telah ditentukan letak TPn nya masing-masing.
  4. Menentukan jalan sarad yang akan dibuat, meliputi jalan sarad utama dan jalan sarad cabang sehingga membentuk jaringan jalan sarad. Jalan sarad ini ditentukan letaknya dengan pertimbangan minimal dampak, terutama dampak terhadap permudaan pohon yang ada dalam kawasan tersebut
  5. menentukan arah rebah pohon yang siap tebang. Aspek yang menjadi pertimbangan dalam penentuan arah rebah ini adalah banyaknya permudaan pohon yang ada di sekitar pohon, kecondongan pohon, serta lebar tajuk pohon yang siap dan atau akan ditebang.

2.3 Simulasi Penebangan

2.3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum dilakukan di laboratorium pemanenan hutan dan arboretum Fahutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor pada tanggal 22 Oktober 2009.

2.3.2 Bahan dan Alat

1. Bahan

Bahan yang diperlukan dalam praktikum ini adalah pohon yang siap tebang (11 buah).

2. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini diantaranya; penggaris (2 buah), busur derajat (1 buah), kapur tulis (3 buah), kalkulator (1 buah), pita ukur (1 buah) dan alat tulis.

2.3.3 Prosedur Kerja

Langkah-langkah yang dilakukan dalam praktikum ini diantaranya:

  1. menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
  2. Menentukan lokasi simulasi penebangan (sesuai dengan kelompok kuadaran yang diperoleh sebelumnya)
  3. Menentukan pohon yang akan ditebang dengan cara melihat di peta
  4. Menentukan arah rebah (melihat di peta)
  5. Mengukur diameter pohon (bila diperlukan pengukuran ulang), akan tetapi pada praktikum ini tidak dilakukan pengukuran ulang karena diameter pohon telah diukur pada saat awal praktikum dan rentang waktu antara praktikum awal (pemetaan pohon) dengan praktikum ini tidak teralalu lama, sehingga diasumsikan pohon tidak megalami pertumbuhan horizontal (pertambahan diameter batang) secara signifikkan.
  6. Membuat takik rebah, yakni alas takik dengan kedalaman 1/5 sampai 1/3 diamter batang pohon diukur dengan menggunakan penggaris dan digambar dengan kapur tulis, serta atap takik  dengan sudut 450 di atas alas takik. Digambar dengan menggunakan kapur tulis
  7. Menentukan jarak takik rebah dengan takik balas sebesar 1/10 diameter, baik jarak horizontal maupun vertikalnya.
  8. Menentukan jalur keselamatan diri yakni sekitar 15-20 m pada kedua sisi pohon dengan arah rebah membentuk sudut tumpul (1200)  dari arah rebah pohon
  9. Melakukan simulasi penebangan

10.  Langkah yang sama dilakukan untuk setiap pohon yang akan disimulasikan kegiatan penebangannnya.

2.4  Perencanaan Pembukaan Wilayah Hutan (PWH)

2.4.1 Waktu dan Tempat

Praktikum dilakukan di laboratorium pemanenan hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor pada tanggal 26 November 2009.

2.4.2 Bahan dan Alat

1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah peta pohon (1 buah)

2. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini diantaranya; Penggaris (1 buah), alat tulis, kurvi meter (1 buah), kalkulator ( 2 buah).

2.4.2 Prosedur Kerja

Langkah-langkah yang dilakukan dalam praktikum ini  adalah sebagai berikut:

  1. Siapkan alat dan bahan yang  diperlukan
  2. Membuat jalan sarad utama
  3. Mengukur panjang jalan sarad utama dengan kurvi meter
  4. Menghitung kerapatan jalan (WD) dengan rumus panjang jalan dibagi dengan luas efektif
  5. Menghitung jarak antar jalan sarad (WA) dengan rumus WA = 10.000/4
  6. Menghitung jaraj sarad rata-rata dengan rumus sebagai berikut:

RE0 = WA/4 atau 2500/WD

REm = ∑ REm/ n, dimana n adalah banyaknya jalan sarad

  1. 7. Menghitung faktor koreksi (Vcor) dengan rumus REm/REt
  2. 8.
  3. Menghitung luas keterbukaan  (SE) dengan rumus   X 100%

10.  Menentukan kriteria pernecanaan pembukaan wilayah, dengan kriteria yang tertera dalam tabel berikut:

Tabel 1 Kriteria perencanaan pembukaan wilayah hutan

E (%) V cor Keputusan penilaian
<65 >1,54 Tidak baik
65-70 1,54-1,43 Cukup
70-75 1,43-1,33 Baik
75-80 1,33-1,25 Sangat baik
>80 <1,25 Luar biasa

2.5  Pengukuran Dampak Penebangan

2.5.1 Waktu dan Tempat

Praktikum dilakukan di laboratorium pemanenan hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor pada tanggal 3 Desember 2009.

2.5.2 Bahan dan Alat

1. Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah peta pohon.

2. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain; penggaris (2 buah), alat tulis  , pensil warna (1 set),  dan kalkulator (2 buah).

2.5.3 Prosedur Kerja

Langkah-langkah yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:

  1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
  2. Menentukan pohon yang siap tebang dan melihat letaknya dalam kawasan (melihat peta)
  3. Membuat garis lurus sepanjang dua kali tinggi pohon dengan arah sesuai dengan arah rebah pohon saat ditebang. Pertimbangn dua kali tinggi pohon berdasarkan pada teori zona bahaya dalam penebangan pohon, yakni sebesar dua kali tinggi pohon yang akan ditebang
  4. Membuat garis yang tegak lurus dengan garis awal, dengan panjang sesuai dengan panjang rata-rata tajuk pohon
  5. Menghitung luasan ketebukaan akibat penebangan dengan formula panjang dua kali tinggi pohon dikalikan lebar tajuk rata-rata
  6. Membagi luas penebangan tersebut ke dalam tiga zona, yakni zona I untuk area diatas TBC sampai dengan tinggi total pohon, Zona II untuk area di bawah TBC, dan Zona III untuk area di atas tinggi total pohon
  7. Menghitung jumlah permudaan pohon yang terkena dampak penebangan untuk tiap zona. Permudaan pohon yang terletak pada zona I akan mengalami kerusakan berat, sehingga di zona ini pohon yang siap tebangpun tidak dilakukan penebangan lagi. Permudaan pohon yang berada pada zona II akan mengalami kerusakan ringan, dan permudaan pohon yang terletak di Zona III akan mengalami kerusakan sangat ringan atau tidak berarti.
  8. Menentukan luasan keterbukaan akibat penebangan pohon seluruh pohon siap tebang. Dalam perhitungan luas ini tidak diperolehkan adanya tumpang tindih perhitungan.

2.6  Pengukuran dampak penyaradan

2.6.1 Waktu dan Tempat

Praktikum dilakukan di laboratorium pemanenan hutan arboretum Fahutan,  Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor pada tanggal 17 Desember 2009.

2.6.1 Bahan dan Alat

1. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air dan tanah di jalan sarad dan di luar jalan sarad.

2. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain; penggaris (2 buah), pemukul dari kayu (1 buah), tabung silinder (3 buah), ember plastik (1 buah), alat pengukur waktu/Stop watch (2 buah), dan alat tulis

2.6.3 Prosedur Kerja

Langkah-langkah yang dilakukaan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:

  1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
  2. Membagi jalan sarad ke dalam petak contoh dalam peta sebesar 10 X 10 cm
  3. Memberikan nomor pada petak -petak tersebut
  4. Menentukan petak contoh yang akan diukur dengan cara acak, yakni dengan mengundi nomor petak contoh
  5. Menentukan titik ukur pada petak contoh
  6. Membersihkan permukaan tanah yang akan diukur laju infiltrasinya dari penutupan tumbuhan, serasah, dan batu, kemudian meratakan permukaan tanah tersebut
  7. Meletakkan tabung slinder di atas permukaan tanah tersebut, dengan bagian tajam berada di sisi yang bersinggungan dengan permukaan tanah
  8. Menekan tabung silinder secara perlahan-lahan dengan tekanan merata (menggunakan pemukul kayu), sampai kira-kira seperlima bagian
  9. Menuangkan air ke dalam tabung silinder, kemudian diukur ketinggian air tersebut (rata-rata 9-12 cm)

10.  Mengukur laju penurunan air dengan menggunakan alat ukur waktu (stop watch). Pegukuran dilakukan selama 5 menit

11.  Mengukur jarak penurunan air dalam tabung silinder dengan menggunakan penggaris (mistar). Kemudian mencatat di buku lapang

12.  Menghitung laju infiltrasi dengan rumus

13.   Menghitung laju infiltrasi rata-rata dengan  rumus RMn =

14.  Membuat grafik dengan menghubungkan nilai-nilai Ren yang diperoleh ke dalam grafik

15.  Praktikum dihentikan apabila nilai RMn antara RMn dan RMn+1 memiliki selisih sangat kecil.

Metode pengambilan titil contoh dalam pengukuran laju infiltrasi digambarkan secara lebih jelas pada gambar 1.

Gambar 1 Metode pengambilan titik contoh dalam pengukuran laju infiltrasi di jalan sarad.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Pemetaan Pohon

3.1.1 Hasil

Berdasarkan praktikum yang dilakukan di lapangan maka diperoleh hasil berupa peta penyebaran pohon dan permudaannya di arboretum  fahutan IPB (terlampir -peta kelompok 7).

3.2.2 Pembahasan

Selama ini pemanenan hutan terutana pemanenan kayunya belum dilakukan secara professional, sehingga keseluruhan sistem silvikultur yang diterapkan belum memperlihatkan keberhasilan berarti. Selain itu, perencanan pemanenan juga belum dilakukan dan dilaksanakan dengan baik, sehingga masih terjadi ketidakselarasan antara pemanenan dengan sistem silvikultur yang ada. Pemanenan kayu selama ini masih banyak yang menggunakan cara konvensional  tanpa perncanaan yang yang matang dan teknik pelaksanannya kurang baik (Elias 1997 dalam Muhdi dan Hanafiah 2007).

Perencanaan pemanenan hutan yang baik diawali dengan memetakan kawasan hutan yang akan diambil hasilnya. Menurut Anonim (2009) Pemetaan adalah proses penggambaran informasi yang ada di permukaan bumi mulai dan pengambilan data secara terestris maupun penginderaan jauh, pengolahan data dengan metode dan acuan tertentu serta penyajian data berupa peta secara manual ataupun secara digital. Pemetaan pohon ini dilakukan secara manual. Luaran atau output dari pemetaan ini adalah berupa peta penyebaran seluruh pohon dan permudaaanya. Namun pada dasarnya peta yang dibuat belum sempurna karena terdapat informasi yang seharusnya ada, namun tidak dijumpai dalam peta tersebut. Menurut Matikainen (2000) peta hasil survei ITSP (Inventarisasi Tegakan Sebelum Pemanenan) harus memuat informasi sebagi berikut:

  1. Judul  dan jenis peta, nama perusahaan, unit pengelolaan, tahun RKT, petak dan luas
  2. Skala; dalam bentuk nomor dan garis pengukur
  3. Arah Utara-Selatan-Barat-Timur
  4. Tangggal cetak, tanggal revisi, kode revisi (untuk keperluan pencetakan ulang)
  5. Legenda; penjelasan simbol yang dipakai
  6. Informasi topografi, interfal kontur (garis yang menghubungkan titik sama tinggi) setiap lima meter
  7. Batas luar petak (baseline)
  8. Titik ukur baseline
  9. Jalur survei

10.   Titik dan nomor PU (untuk mengecek data dari tally sheet dan data entry)

11.  Sungai, anak sungai, alur air, jurang (mulai dari ukuran dengan lebar dan kedalaman yang bisa menghalangi kegiatan penyaradan sehingga harus diperhatikan dalam perencanaan jalan sarad), mata air, rawa, cekungan, jalan angkutan atau bekasnya, bekas jalan sarad, jalan setapak, bentuk alam lain yang istimewa (misalnya: pohon, batu, tebing lereng yang istimewa, kuburan dan tempat tumbuhan langka).

Peta yang telah dibuat tidak memuat informasi mengenai nama perusahaan dan unit pengelolaan, tahun RKT, serta jumlah petak karena memang unsur-unsur tersebut tidak diperlukan dalam penggunaan peta ini . Peta ini pada dasarnya dijadikan sebagai pedoman untuk kegiatan praktikum selanjutnya yakni  mulai dari penentuan TPn, jalan sarad dan arah rebah sampai pada pengukuran dampak akibat penyaradan. Informasi mengenai nama perusahaan sebenarnya untuk menunjukkan hak atas pengelolaan suatu kawasan hutan yang dimilliki oleh perusahaan tersebut sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Sementara untit pengelolaan diperlukan dalam memberikan informasi mengenai pembagian unit kerja pengelolaan dalam perusahaan yang dimaksud dengan rencana kerja tahunan (RKT) yang juga tercantum. Sedangkan untuk petak tebangan, ini tidak dilakukan karena luasan arboretum Fahutan yang tidak memenuhi standar dalam penentuan luasan petak tebang dalam pengelolaan hutan terutama untuk kegiatan pemanenan (pada umumnya ukuran satu petak antara 2-5 hektar, tergantung luas keseluruhan kawasan hutan).

Tanggal cetak, tanggal revisi dan kode revisi juga tidak dicantumkan dalam peta yang dibuat. Hal ini dikarenakan peta tersebut tidak dicetak ataupun diperbanyak. Sementara itu, tanggal revisi seharusnya dicantumkan dalam peta akhir perencanaan pemanenan karena adanya proses revisi terhadap arah rebah pohon siap tebang (komersil) dengan arah dan banyaknya jalan sarad. Informasi mengenai topografi juga tidak dicantumkan dalam peta, hal ini dikarenakan selain topografi di arboretum Fahutan datar tetapi juga karena tidak dilakukannya pengukuran topografi di lapangan (pada saat praktikum).

Jalur survei tidak dicantumkan dalam informasi peta karena survei  tidak dilakukan secara sistematis, melainkan acak atau tidak beraturan, sehingga agak sulit untuk dipetakan. Sementara informasi mengenai sungai, anakan sungai, dan laian-lainya itu, tidak dicantumkan karena memang tidak dijumpai aspek-aspek yang dimaksud di dalam arboretum Fahutan, khusus untuk pohon istimewa dan dilindungi juga tidak dicantumkan dikarenakan semua pohon yang ada di arboretum Fahutan diasumsikan sebagai pohon komersil seluruhnya dan dengan ketentuan pohon yang berdiameter ≥30 cm dianggap sebagai pohon siap tebang.

Berdasarkan informasi yang diberikan dalam peta yang telah dibuat. Peta ini dapat digolongkan sebagai peta administrasi (mirip peta induk), yakni peta yang memuat  informasi semua  pohon dan permudaanya dengan tujuan untuk administrasi dan tidak dilakukan revisi. Peta in juga dapat digolongkan sebagai peta teknis pembalakan, karena memuat informasi mengenai  pohon panen yang secara teknis layak dipanen dengan nomornya (untuk keperluan perencanaan dan pengawasan pembalakan) dan direvisi sesuai tahap pembalakan, revisi meliputi: perubahan jalan sarad, pohon yang ditebang dan lainnya (Matikainen 2000).

3.2 Perencanaan Tempat Pengumpulan Kayu (TPn), Jalan Sarad, dan Arah `            Rebah Pohon

3.2.1 Hasil

Perencanaan TPn dan jalan sarad merupakan rencana peletakkan TPn dan pembuatan jalan sarad di dalam kawasan (Arboretum Fahutan). Hasil dari perencanaan ini dapat dilihat pada peta penyebaran pohon dan rencana pemanenannya (peta kelompok 7). Sementara itu perencanaan arah rebah pohon, selain dapat dilihat pada peta juga dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2 Perencanaan arah rebah pohon dalam penebangan pohon komersil dan siap tebang di Arboretum Fahutan

No.Pohon Nama Jenis Arah Rebah
1 Burahol 900
2 Shorea 326°
7 Rasamala 30°
10 Pinus 29°
11 Rasamala 295°
16 Shorea 60°
18 x1 90°
19 Shorea 209°
25 Kayu naga 248°
27 x5 43°
28 x6 90°
29 x4 190°
30 x7 270°
31 Merawan 204°
32 x8 180°
35 Pinus 50°
36 x10 25°
38 x12 354°
39 Pinus 135°
40 Pohon kaya 340°
41 Rasamala 50°
43 X13 317°
46 x13 180°
47 Shorea 180°
48 Kayu afrika 270°
49 Matoa 44°
51 Pinus 35°
53 Pinus 118°
57 x15 270°
58 x16 236°
60 Kemiri 236°
61 Kayu afrika 151°
64 Parashorea 326°
66 Angsana 270°
70 x21 215°
73 Shorea 900

Tabel 2 (Lanjutan)

76 Kayu afrika 3050
81 Laban 3280
82 Rasamala 2700
83 Rasamala 450
86 Agatis 2000

3.2.1 Pembahasan

Sebelum pelaksanaan pemanenan, pada umumnya dilakukan perencanaan secara intensif yang meliputi; penentuan arah rebah, jaringan jalan di atas peta dan ditandai di lapangan (Elias 1998). Selain itu, perencanaan tempat pengumpulan kayu (TPn) juga diperlukan dalam perencanaan pemanenan secara intensif. TPn merupakan tempat pengumpulan kayu yang bersifat sementara, sebelum dilakukan pemuatan atau pemindahan ke tempat penimbunan kayu (TPK) di luar kawasan hutan. Pada praktikum ini Tpn direncanakan berada di sudut Arboretum Fahutan. Perncanaan TPn ini berdasarkan pertimbangan kedekatan dengan jalan utama, sehingga mudah dalam pengangkutan tahap selanjutnya (ke TPK). Kedekatan TPn dengan jalan utama pada dasarnya merupakan TPn yang diharapkan dalam kegiatan pemanenan kayu di hutan. Hal ini dikarenakan dapat menghemat waktu kerja dan biaya, karena transportasi lebih mudah dilakukan.

Penghematan waktu kerja dimaksudkan meminimalkan waktu kerja nonefektif. Waktu kerja dikatakan tidak efektif apabila dalam aktivitas kerja terdapat waktu-waktu yang hilang atau tidak produktif. Dalam kasus ini, TPn yang diletakkan di sudut area dan dekat jalan utama akan menghemat waktu dibanding TPn diletakkan di dalam. Selain itu, waktu kerja tidak efektif  juga dapat diperoleh dari gangguan, misalnya cuaca buruk, sehingga jalan menjadi rusak atau yang lainnya. Dengan letak TPn di dekat jalan utama, maka faktor kondisi jalan yang rusak apabila cuaca buruk – misalnya hujan deras- dapat diabaikan. 

Proses pemindahan kayu hasil tebangan dari lokasi penebangan ke tempat pengumpulan kayu (TPn) memerlukan jalan. Jalan yang dimaksud adalah jalan sarad. Menurut Elias et al. (2001) tahapan pembuatan jalan sarad adalah sebagai berikut; 1)  Pembuatan jalan sarad dimulai setelah pembukaaan jalan sarad dan penebangan selesai dan dilakukan oleh petugas pembuat jalan sarad dengan menggunakan traktor, 2) pembuatan jalan sarad diselesaikan setelah semua pohon yang ditebang ditarik keluar, kemudian memperbaiki dan meratakan permukaan jalan sarad, 3) diusahakan untuk menghindari penumpukan tanah (gali timbun) pada jalan sarad, 4) kayu kecil dan ranting yang tidak dikeluarkan dari jalan sarad dapat digunakan sebagai penutup tanah pada jalan sarad.

Perencanaan jalan sarad dapat menentukan tingkatan dampak pemanenan kayu. Jalan sarad yang baik adalah jalan sarad yang memiliki dampak minimal atau rendah. Pada saat ini telah diberikan panduan mengenai perencanaan jalan sarad yang baik melalui metode pemanenan kayu yang ramah lingkungan atau RIL (Reduced Impact Logging). Dibandingkan dengan perencanaan jalan sarad konvensional perencanan jalan sarad dalam metode RIL lebih sederhana dan efektif. Hal ini dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2 Perbandingan perencanaan jalan sarad pada pemnanenan RIL dan  Konvensional. (diadopsi dari Muhdi dan Hanifah 2007).

Proses penebangan dalam tahapan perencanaan pada umumnya dimulai dengan perencanaan arah rebah pohon. Arah rebah pohon direncanakan hanya untuk pohon-pohon komersil yang siap tebang, yakni yang berdiameter ≥30 cm. Perencanaan arah rebah pohon ini diperlukan untuk aplikasi penebangan yang meminimalkan dampak.  Arah rebah pohon atau derajat arah rebah disesuaikan dengan kondisi sekitar pohon yang akan ditebang kecondongan pohon, dan arah tajuk dominan. Kondisi sekitar pohon yang dimaksud adalah banyaknya permudaan pohon, mulai dari semai, pancang, tiang dan pohon lain yang ada di sekitar pohon yang akan ditebang. Pertimbangan kondisi sekitar ini bertujuan untuk mengurangi dampak berupa kerusakan pada permudaan pohon atau vegetasi tersebut. Hal ini dikarenakan tingkat kerusakan permudaan menjadi salah satu indikator tingkat keramahan penebangan terhadap lingkungan. Sementara itu, kecondongan pohon dan arah tajuk dominan juga menjadi pertimbangan dalam penentuan arah rebah pohon. Pohon yang memiliki kecondongan dan arah tajuk dominan pada arah tertentu, akan lebih baik dalam penebangannya diarahkan ke arah tersebut. Hal ini bertujuan selain untuk mempermudah dalam proses penebangan juga mengurangi resiko bahaya penebang berupa perebahan tidak sesuai arah rebah yang diinginkan penebang.

Selain ketiga faktor di atas, menurut Juta (1954) dalam Hartono (2008) menambahkan faktor lain yang harus diperhatikan, yakni kemiringan dan rintangan jenis tumbuhan pemanjat, tunggak dan batu-batu, serta keadaan cuaca pada waktu penebangan.

3.3 Simulasi Penebangan

3.3.1 Hasil

Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum yang telah dilakukan diperoleh data bahwa panjang takik rebah dan takik balas berbeda untuk setiap pohon. Hal ini dikarenakan diameter masing-masing pohon juga berbeda dari segi ukuran. Semakin besar diameter pohon maka akan semakin panjang atau dalam takik rebah yang dibuat, begitu juga dengan panjang takik balasnya. Pohon yang memiliki diameter terbesar adalah kayu afrika, yakni 59, 87 cm dengan panjang takik rebah dan takik balas sebesar 14,97 cm dan 38, 92 cm. Sedangkan pohon yang memiliki diameter terkecil adalah pohon X16 yakni 33,12 cm dengan panjang takik rebah dan takik balasnya sebesar 8,28 cm dan 21, 53 cm. Sementara itu, lebar engsel dipengaruhi langsung oleh diameter batang pohon. Data mengenai ukuran takik rebah, takik balas dan engsel dalam simulasi penebangan disajikan secara lengkap pada tabel 3.

Tabel 3 Ukuran takik rebah, takik balas dan engsel pada simulasi penebangan

No. Pohon Nama Jenis Diameter (cm) Panjang Alas Takik Rebah Panjang Takik Balas Lebar Engsel
43 X13 55,73 13,93 36,23 5,57
46 x13 53,5 13,38 34,78 5,35
47 Shorea 35,73 8,93 23,22 3,57
48 Kayu afrika 40,13 10,03 26,08 4,01

Tabel 3 (lanjutan)

49 Matoa 39,81 9,95 25,88 3,98
50 x14 70,06 17,52 45,54 7,01
51 Pinus 36,31 9,08 23,60 3,63
53 Pinus 40,25 10,06 26,16 4,03
57 x15 50,9 12,73 33,09 5,09
58 x16 33,12 8,28 21,53 3,31
60 Kemiri 50 12,50 32,50 5,00
61 Kayu afrika 59,87 14,97 38,92 5,99
64 Parashorea 50,32 12,58 32,71 5,03
66 Angsana 45,86 11,47 29,81 4,09
70 x21 35,67 8,92 23,19 3,57

3.3.2 Pembahasan

Penebangan merupakan tahapan kegiatan pemanenan kayu untuk merebahkan pohon yang berdiri tegak dan berdiameter sama atau lebih besar dari batas yang telah ditetapkan (Dirjen PH tanpa tahun dalam Iskandar 2000). Telah dijelaskan sebelumnya bahwa simulasi penebangan hanya dilakukan pada pohon komersil dengan diameter batang ≥30 cm. Batasan penebangan pohon ini berbeda dengan hutan alam produksi. Di hutan alam produksi umumnya pohon yang ditebang memiliki ukuran ≥50 cm. Hal ini bertujuan selain untuk menjaga kualitas kayu, baik waktu pakai maupun kekuatan kayunnya juga mengurangi percepatan dalam penebangan, sehingga penebangan dapat dilakukan secara berkelanjutan dalam waktu yang lama.

Penebangan pohon diawali dengan penentuan arah rebah pohon. Arah rebah yang benar menurut Juta (1954) dalam Hartono (2008)  akan menghasilkan rebahnya pohon sesuai dengan yang diinginkan, selain itu kecelakaan kerja dan kerusakan lingkungan juga dapat ditekan. Arah rebah pohon telah ditentukan dalam praktikum sebelumnya (praktikum mengenai Penentuan TPn, Jalan Sarad, dan Arah Rebah). Setelah arah rebah ditentukan dilanjutkan dengan membuat takik rebah yang meliputi alas takik dan atap takik, kemudian membuat takik balas untuk merebahkan pohon. Engsel pada proses penebangan berfungsi untuk menentukan arah rebah pohon. Sisi engsel yang akan menjadi tumpuan arah rebah umumnya dibuat lebih lebar dibanding engsel yang berfungsi untuk arah rebah. Hal ini dikarenakan engsel yang lebih kecil akan menyebabkan gaya gravitasi lebih besar pada sisi tersebut, sehingga jatuhnya atau rebahnya pohon berada di sisi yang dimaksud (engsel kecil).

Pembuatan takik rebah diusahakan serendah mungkin. Hal ini dikarenakan akan mempengaruhi efisiensi proses pemanenan dsan pemanfaatan kayu secara keseluruhan. Efisiensi yang dimaksud meliputi produktivitas kerja, pemanfaatan kayu, dan biaya penebangan. Menurut Suharna dan Yuniawati (2005) pembuatan takik rebah serendah mungkin atau  penebangan serendah mungkin menunjukkan bahwa produktivitas penebangan meningkat sebesara 2,635 m3/ jam, efisiensi pemanfaatan kayu meningkat sebesar 16,3% atau 0,56 m3 per pohon, dan biaya penebangan berkurang sebesar Rp, 622,71/m3. Selain itu, penebangan serendah mungkin juga dapat mengurangi limbah kayu yang berasal dari tunggak kayu.

Proses penebangan perlu memperhatikan keselamatan kerja, karena umumnya pada proses ini banyak terjadi kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja banyak terjadi saat menunggu perebahan pohon, sehingga dalam kegiatan penebangan perlu memperhatikan arah rebah pohon dengan cermat dan tidak berada pada zona bahaya pada saat pohon akan rebah.Cara yang paling aman adalah dengan berada di dekat pohon saat pohon akan roboh (Wackerman 1949)   atau mengikuti jalur keselamatan, yakni sekitar 15-20 m pada kedua sisi pohon dengan arah rebah membentuk sudut tumpul (±1200) dari arah rebah pohon.

Keamanan kerja tidak hanya perlu memperhatikan keselamatan kerja saat pohon akan rebah tetapi juga perlu memperhatikan kesehatan kerja. Hal yang termasuk rawan dalam kegiatan penebangan adalah pendengaran. Pendengaran dapat terganggu dari kebisingan yang ditimbulkan oleh bunyi chain saw. Menurut Santosa (1992) dalam Yuniawati (2005), kehilangan pendengaran merupakan pengaruh utama dari kebisingan, hal ini tidak dirasakan langsung oleh pekerja akan tetapi berlangsung setahap demi setahap. Sehingga dalam kegiatan penebangan ini diperlukan peralatan penutup telinga yang aman dan dapat meredam bunyi chain saw yang terlalu keras.

3.4 Perencanaan Pembukaan Wilayah Hutan (PWH)

3.4.1 Hasil

Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan dengan menganalisis data yang diperoleh seblumnya dari peta. Diperoleh data mengenai parameter pembukaan wilayah hutan yang meliputi kerapatan jalan (WD), jarak antar jalan (WA), jarak sarad rata-rata teoritis (RE0) dan jarak sarad rata-rata terpendek (REm­), faktoe koreksi (Vcorr),  faktor koreksi (Tcorr), dan persen PWH (E%). Nilai masing-masing parameter dapat dipastikan berbeda. Hal ini dikarenakan setiap nilai parameter merupakan turunan perhitungan dari nilai parameter sebelumnya. Hasil perhitungan mengenai nilai-nilai tersebut disajikan secara lengkap pada tabel 4.

Tabel 4 Hasil perhitungan nilai parameter jaringan jalan

No. Parameter Jaringan Jalan Hasil
1 Kerapatan Jalan (WD) 188,63  m/ha
2 Jarak Antar Jalan (WA) 53,01  m
3 Jarak Sarad Rata-rata Teoritis (RE0) 13,25
4 Jarak Sarad Rata-Rata Terpendek (REM) 16,36
5 Faktor Koreksi (Vcorr ) 0,81
6 Tcorr 0,022
7 % PWH 22,63%

3.4.2 Pembahasan

Pembukaan wilayah hutan bertujuan untuk merencanakan pembuatan jalan angkutan dan prasarana lainnya yang berkaitan dengan kegiatan pengusahaan hutan. Tujuannya menurut Anonim (2009) adalah untuk menyiapkan jaringan jalan angkutan dan prasarana lainnya untuk kelancaran pembangunan dan pembinaan hutan tanaman serta angkutan hasil hutan seperti base camp, TPK dan lain-lain.

Pembukaan wilayah hutan umumnya diawali dengan perecanaan pembukaan jalan. Jalan merupakan infrastruktur penting yang harus dibangun dalam pembukaan wilayah, sehingga perencanaan pembuatan jalan perlu dilakukan dengan matang dan sistematis agar fungsi jalan sebagai sarana aksesibilitas dapat berjalan dengan baik dan sesuai harapan. Perencanaan pembuatan jalan ini tidak semata hanya perencanaan jalan utama, akan tetapi juga termasuk jalan cabang, dan atau ranting. Perencanaan jalan dalam kegiatan pemanenan harus memperhatikan kemudahan aksesibilitas jalan tersebut untuk menghubungkan tempat-tempat yang terkait dengan kegiatn pemanenan, sehingga jalan-jalan yang dibuat  tersebut akan membentuk jaringan jalan yang integratif dengan pelayananan jalan optimal.

Menurut Elias (2008) jaringan jalan hutan merupakan kumpulan elemen-elemen yang saling menyambung satu sama lainnya dan membentuk suatu  hubungan jalan yang terpadu dan terkait. Sambungan jalan-jalan ini dapat berupa jalan lurus, berbelok, dan tempat-tempat atau bangunan yang terkait dengan kegiatan pemanenan, seperti basecamp, Tempat pengumpulan kayu (TPn), TPK antara, TPK akhir, menara pengawas, dan log pond. Merujuk pada definisi jaringan jalan di atas berarti perencanaan jaringan jalan tidak hanya terbatas pada area hutan saja, akan tetapi juga di luar area  hutan, yang juga harus memiliki pola tertentu.

Bentuk pola jaringan jalan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu; topografi, geologi, iklim, tanah, dan sistem penyaradan dan pengangkutan yang akan dilakukan (Elias 2008).  Faktor-faktor ini akan mempengaruhi tata letak pola jaringan jalan, sehingga kadang-kadang menyimpang dari bentuk atau pola jaringan jalan ideal, sehingga mempengaruhi nilai kerapatan jalan atau panjangnya jalan hutan yang dibangun dengan persen wilayah yang dapat dilayani jaringan jalan tersebut dengan cepat dan mudah (jaringan jalan ideal). Pola jaringan jalan dikatakan ideal apabila jariangan jalan tersebut dapat membuka wilayah hutan secara merata dan menyeluruh, dan dapat dapat digunankan untuk mengakses ke berbagai tempat, terutama yang berkaitan dengan kegiatan pemanenan. Untuk membuat pola jaringan jalan yang ideal perlu memperhatikan parameter-parameter yang dibutuhkan dalam perencanaan jalan tersebut.

Parameter yang telah dihitung manghasilkan nilai kerapatan jalan (WD) sebesar 188,63 meter per hektar, berarti bahwa dalam lahan seluas satu hektar dilayani oleh jalan angkutan sepanjang  188,63 m. Besarnya kerapatan jalan ini terlalu besar jika dibandingkan dengan kerapatan jalan yang diharapkan oleh PT Perhutani untuk kelas perusahaan jati yaitu sebesar 12 m/ha (Indriyati 2002). Kerapatan jalan berkorelasi positif negatif dengan jarak antar jalan (WA). Apabila kerapatan jalan bernilai besar, maka jarak antar jalan akan bernilai kecil, begitu juga sebaliknya. Jarak antar jalan juga menunjukkan tingkat aksesibilitas jalan yang akan dibuat, semakin kecil nilai WA maka akan semakin tinggi tingkat aksesibilitas jalan tersebut, begitu juga denga sebaliknya.

Nilai spasi jalan untuk kawasan arboretum Fahutan adalah sebesar 53,01 m, hal ini menunjukkan bahwa jarak antar jalan secara teoritis adalah sebesar 53,01 m. Dari nilai ini dapat diperoleh nilai jarak sarad rat-rata secara teoritis (RE0).

Jarak sarad rata-rata teoritis merupakan jarak sarad rata-rata terpendek dari tempat penebangan sampai dengan jalan pengangkutan. Jarak sarad rata teoritis diperoleh dengan  membagi nilai spasi jalan dengan empat, sehingga diperoleh nilai sebesar 13,25. Jarak sarad rata-rata diperlukan untuk  menentukan faktor koreksi jaringan jalan (Vcorr). Vcorr akan digunakan sebagai indikator dalam penilaian keterbukaan wilayah hutan, terutama untuk mengoreksi tata letak jalan di lapangan. Vcorr diperoleh dari perbandingan antara jarak sarad rata-rata terpendek (REm) dengan  jarak sarad rata-rata teoritis (REo). Vcorr hasil perhitungan adalah sebesar 0,81. Nilai ini menunjukkan bahwa panjang sarad rata-rata terpendek lebih panjang 0,81 kali dibandingkan dengan panjang jarak sarad rata-rata teoritis.

Sama halnya dengan faktor koreksi jalan sarad, faktor koreksi jalan sarad (Tcorr) juga digunakan untuk mengoreksi jarak sarad. Tcorr merupakan perbandingan antara jarak sarad rata-rata sebenarnya (REt) dengan jarak sarad rata-rata terpendek (REm). Berdasarkan hasil perhitungan nilai Tcorr untuk arboretum Fahutan adalah sebesar 0,022. Nilai ini menunjukkan bahwa panjang jalan sarad rata-rata sebenarnya lebih panjang 0,022 kali lebih panjang dibandingkan panjang jalan sarad rata-rata terpendek.  persen keterbukaan wilayah (E%) juga dapat dijadikan indikator untuk menilai tingkat ketebukaan wilayah hutan yang akan dikelola hasil hutannya.  E% yang diperoleh berdasarkan perhitungan adalah sebesar 22,63%. Hal ini menunjukkan nilai keterlayanan dari jalan yang dibuat hanya sebesar 22,63%  dari seluruh kawasan.

Berdasarkan nilai yang diperoleh dari faktor koreksi (Vcorr) dan persen ketebukaan wilayah (E%) ,  keputusan penilaian memberikan hasil yang berbeda. Berdasarkan faktor koreksi perencanaan PWH di arboretum Fahutan dapat dikatakan luar biasa karena nilainya <1, 25. Sedangkan berdasarkan nilai E%, perencanaan PWH di area ini termasuk ke dalam kategori tidak baik. Perbedaan keputusan penilaian ini diduga disebabkan oleh luasan arboretum fahutan yang terlalu kecil, sehingga panjang jalan sarad utama  yang diukur dengan kurvi meter melebihi dari panjang kawasan. Padahal nilai dari panjang jalan sarad utama ini menentukan nilai parameter dari perencanaan pembukaan wilayah selanjutnya.

3.5 Pengukuran Dampak Penebangan

3.5.1 Hasil

Berdasarkan pengukuran pada dampak penebangan pohon komersil yang ada di arboretum Fahutan, diperoleh data yang disajikan secara lengkap pada tabel 5.

Tabel 5 Hasil Pengukuran dampak penebangan pohon komersil di Arboretum   Fahutan

No.Pohon Gap (m2) Zona I Zona II Zona III
a b C d a b c d A b c d
1 288 149 9 3 4 275 8 3 1 154 3 1 5
2 468 41 5 - 1 74 14 - - 92 - 5 4
7 87 - - - - 7 1 - 3 - - - -
10 156 - - - - - - - - - - - -
11 66 - - - 1 - - - - - - - -
16 213,6 82 4 2 1 6 - 1 4 - - - -
18 22 - - - - 71 1 - 4 - - -
19 157 9 - - 1 7 1 2 1 3 2 2 2
27 200 - - - - 45 1 2 - - - - -
29 158 5 3 2 1 15 1 2 - 55 4 1 6
30 590,88 24 15 3 4 53 4 4 - - - 2 -
31 586,74 - - - - 15 2 1 4 - - - -
32 338,72 - - - 3 7 2 1 2 - - - -
35 308,6 - - - - 8 3 1 1 - - - -
43 535,2 73 3 1 3 56 7 - 2 37 14 7 4
46 688,5 - 1 1 2 75 - - 2 - 1 - 1
47 299 - - 1 4 - - - - - - - -
48 372,6 - - - - - 1 - 2 - - - -
49 466,4 - - 1 1 - 1 1 1 73 10 4 9
50 867,6 33 2 2 3 - 2 - 4 7 6 3 12
51 256,8 2 1 1 2 - 1 - 5 57 2 1 6
53 296,4 - 1 - - - - - 5 27 7 2 6
57 752 - - - - - - - 2 - - - -
61 555 - - - - - 3 - - - - - -
64 466,4 - - - - 15 2 1 2 17 1 - 3
70 235 - - - - - 3 - - - - 1 1
81 471,6 - - - - - 4 2 - - - - -
82 646 - - - - 37 6 17 1 - - - -

Keterangan : a= Jumlah semai yang mengalami kerusakan

b= Jumlah pancang yang mengalami kerusakan

c= Jumlah tiang yang mengalami kerusakan

d= Jumlah pohon yang mengalami kerusakan

3.5.2 Pembahasan

Menurut Radiardi (2008)  kegiatan pemanenan terutaman penebangan tidak hanya berpengaruh terhadap tegakan tinggal tetapi juga berpengaruh terhadap potensi anakan seperti semai dan pancang. Hal ini dapat dilihat dari kerapatan anakan tersebut dalam kawasan pasca penebangan.  Kerusakan tegakan tinggal dan permudaan pohon adalah kerusakan yang terjadi pada bagian tegakan yang hakikatnya tidak masuk dalam kriteria perencanaan penebangan pada saat penebangan dilakukan. Kerusakan-kerusakan itu dapat berupa pohon roboh atau pohon masih berdiri yang bagian batangnya, banir, dan tajuknya rusak. Kerusakan ini diperkirakan dapat mengganggu pertumbuhan pohon dan permudaanya tersebut menjadi terganggu atau tidak normal (Sastrodimendo dan Radja 1976 dalam Nasution 2009).

Kerusakan tegakan tinggal dan permudaan pohon paling banyak terjadi pada penebangan pohon 1 (satu).  Pada zona I (zona dengan tingakat kerusakan berat, berada di antara tinggi bebas cabang sampai tinggi total),  pohon yang rusak sebanyak empat pohon, tiang tiga batang, pancang sembilan batang, dan semai sebanyak 149. Pada zona II  (zona dengan tingakat kerusakan ringan, berada di antara tinggi bebas cabang samapi akar pohon), pohon yang rusak sebanyak satu batang, tiang tiga batang, pancang delapan batang, dan semai sebanyak 275. Sementara itu, pada zona III (zona dengan  tingkat kerusakan sangat ringan, berada di antara tinggi total pohon samapai zona bahaya atau dua kali tinggi total), pohon yang kemungkinan rusak sebanyak lima batang, tiang satu batang, pancang tiga batang, dan semai sebanyak 154.  Tingkat kerusakan yang tinggi pada penebangan pohon satu ini dikarenakan kondisi sekitar pohon yang memang rapat akan pohon lain, tiang, pancang, dan semai . Pengarahan arah rebah pohon sebenarnya sudah berusaha meminimalkan dampaknya, artinnya arah rebah ini dipilih karena memang dampak yang ditimbulkan paling minimal diantara arah yang lainnya.

Kerusakan tegakan tinggal dan permudaan pohon paling sedikit  terjadi pada penebangan pohon 10. Pada penebangan pohon ini tidak ada kerusakan sama sekali, artinya tidak ada semai, pancang, tiang dan pohon yang rusak akibat proses penebangan, baik itu yang bersifat sangat ringan, ringan, maupun berat. Kondisi ini dikarenakan daerah disekitar pohon tidak dijumpai  semai,  pancang, tiang dan pohon lain. Hal ini juga disebabkan arah rebah pohon diarahkan keluar kawasan arboretum Fahutan atau diarahkan ke jalan utama, yang tidak ada vegetasi di lokasi tersebut.

Menurut Thalib (1986) dalam Nasution (2009) kerusakan tegakan tinggal dan permudaan pohon tersebut dapat menyebabkan keterbukaan areal. Keterbukaan areal ini dapat dilihat dari nilai gap yang diperoleh dari proses penghitungan luas persegi panjang yang terbentuk dari diameter rata-rata tajuk pohon dengan dua kali tinggi total pohon atau luasan zona I, II dan III.

Luas keterbukaan areal (gap) yang paling besar dijumpai pada penebangan pohon nomor 50, yakni sebesar 867,6 m2. Sedangkan luas keterbukaan areal terkecil dijumpai pada penebangan nomor 18 dengan luas 22 m2.

3.6 Pengukuran Dampak Penyaradan

3.6.1 Hasil

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap laju infiltrasi di jalan sarad diperoleh data bahwa pengamatan laju infiltrasi selesai pada pengamatan titik contoh ke -14 dengan Runing mean sebesar 0,4493 cm/menit.  Data mengenai pengamatan infiltrasi dan Runing mean infiltrasi tersebut disajikan secara lengkap pada tebel 6.

Tabel 6 Laju infiltrasi di jalan sarad

NO. Tinggi Air (cm) Lama Waktu (menit) Kecepatan (cm/menit) Rm (cm/menit)
1 12 3,35 3,58 -
2 12 2,81 4,27 3,9250
3 9,5 5 1,90 2,9125
4 1,5 5 0,30 1,6062
5 1 5 0,20 0,9031
6 8,5 5 1,70 1,3016
7 1,8 5 0,36 0,8308
8 3 5 0,60 0,7154
9 3 5 0,60 0,6577
10 1 5 0,20 0,4288
11 1,8 5 0,36 0,3944
12 2,4 5 0,48 0,4372
13 2,2 5 0,44 0,4386
14 2,3 5 0,46 0,4493

Sementara itu, hasil berbeda diperoleh pada pengamatan laju infiltrasi di bawah tegakan. Pengamatan laju infiltrasi ini diberhentikan pada titik contoh ke-21 dengan Runing mean sebesar 10, 46 cm/menit. Data mengenai infiltrasi dan Runing meannya ini dapat dilihat secara lengkap pada tabel 7.

Tabel 7 Laju infiltrasi di bawah tegakan

NO. Tinggi Air sisa (cm) Lama Waktu (Menit) Kecepatan (cm/menit) Rm (cm/menit)
1 4,5 5 4,5 -
2 11 2,32 22,0 13,25
3 11 1,7 49,25 31,25
4 8,5 5 8,5 19,875
5 1,5 5 1,5 10,68
6 11 0,92 60,0 35,34
7 9,5 5 9,5 22,42
8 3,5 5 3,5 12,96
9 9 5 9,0 10,90
10 7 5 7,0 8,95
11 11 2,46 19,88 14,42
12 11 1,49 20,28 17,34
13 11 1,47 30,84 24,09
14 9 5 9,0 16,55
15 6,5 5 6,5 11,52
16 7 0,67 52,5 32,01
17 11 2,40 20,62 26,32
18 10 5 10,0 18,15
19 9 5 9,0 13,57
20 4,3 5 8,3 10,94
21 5,8 5 10,0 10,46

3.6.2 Pembahasan

Penyaradan kayu merupakan kegiatan memindahkan kayu dari tempat tebangan ke tempat pengumpulan kayu (TPn) atau ke pinggir jalan angkutan (Muhdi 2002). Kegiatan ini merupakan kegiatan pengangkutan jarak pendek. Kegiatan penyaradan ini menurut Muhdi (2005) dapat menimbulkan dampak negatif berupa kerusakan struktur tanah dan menyebabkan terjadinya pemadatan tanah. Kepadatan tanah merupakan kondisi  terjadinya pemampatan struktur tanah sehingga terkadang pori-pori tanah menjadi tertutup seluruhnya. Pemadatan tanah biasa terjadi dalam kegiatan pemanenan terutama di jalan sarad.

Pemadatan  tanah akibat penyaradan akan mempengaruhi laju infiltrasi. Pada dasarnya Infiltrasi merupakan gerakan menurun air melalui permukaan tanah mineral. Kecepatan infiltrasi biasanya dinyatakan dalam satuan mm/jam (Lee 1998 dalam Purba 2006). Akan tetapi dalam perhitungan laju infiltrasi di kedua tempat yang berbeda tersebut satuan yang digunakan adalah cm/menit. Pengukuran laju infiltrasi di lapangan menggunakan Infiltrometer silinder, yakni dengan menggunakan tabung silinder yang dimasukkan ke dalam tanah sebagian, kemudian menggenangkan air dipermukaan tanah tanpa aliran permukaan  melalui tabung silinder tersebut.

Secara umum laju infiltrasi tertinggi di jumpai di awal pengukuran, kemudian secara perlahan, mengalami penurunan sejalan dengan bertambahnya waktu dan akhirnya mencapai kecepatan yang konstan. Hal ini terbukti saat pengukuran laju infiltrasi di jalan sarad, yang memiliki laju tertinggi yaitu sebesar 3,58 cm/menit dan 4,27 cm/menit. Besarnya laju infiltrasi di awal pengukuran juga mempengaruhi besarnya nilai runing mean yang diperoleh, yaitu sebesar 3,9250 cm/menit.  Selanjutnya  dalam pengukuran laju infiltrasi relatif terus mengalami penurunan, sampai  diberhentikan pada pengukuran ke-14 dengan laju infiltrasi sebesar 0,46 cm/menit dan runing mean nya sebesara 0,4493 cm/menit. Kekonstanan laju infiltrasi ini secara jelas dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3  Laju infiltrasi di jalan sarad dianggap konstan.

Proses penurunan laju infiltrasi dari pengukuran awal ke pengukuran berikutnya dikarenakan semakin lama proses infiltrasi berlangsung, kadar air meningkat, dan ketika tanahnya mulai jenuh, pergerakan air ke bawah profil tanah hanya ditimbulkan oleh gaya tarik gravitasi (Hillel 1980 dalam Dardis 2002 dalam Purba 2006).  Akan tetapi, penurunan laju infiltrasi dari awal pengukuran ke pengukuran selanjutnya tidak bersifat konstan, terkadang ada pengukuran yang memiliki kenaikan atau penurunan laju infiltrasi secara signifikkan. Hal ini dapat dilihat pada pengukuran laju infiltrasi di bawah tegakan (tabel 6), pada pengukuran ke-13 laju infiltrasi yang diperoleh sebesar 30,84 cm/menit turun menjadi 9,0 cm/menit pada pengukuran ke-14 atau dapat dikatakan turun secara signifikkan sebesar 21,84 cm/menit. Sedangkan pada pengukuran laju infiltrasi dari pengukuran ke-15 sampai 16, naik sebanyak 46 cm.menit, yakni dari 6,5 cm/menit menjadi 52,5 cm/menit.  Laju infiltrasi di bawah tegakan telah dianggap konstan pada pengukuran ke-21, yakni pada laju infiltrasi sebesar 10 cm/menit dengan runing mean sebesar 10,46 cm/menit. Kekonstanan laju infiltrasi tersebut dapat dilihat secara jelas pada gambar 4.

Gambar 4 Laju infiltrasi di bawah tegakan dianggap konstan.

Hasil pengukuran yang diperoleh dari pengukuran laju infiltrasi di jalan sarad dan di bawah vegetasi membuktikan bahwa laju infiltrasi di jalan sarad akan lebih rendah dibandingkan dengan laju infiltrasi di bawah tegakan. Secara matematis perbedaan ini dapat diketahui dari menghitung selisih runing mean di kedua tempat tersebut. Berdasarkan perhitungan diperoleh selisih laju infiltrasi –rata-rata sebesar 10,0107 cm/menit. Hal ini juga dapat berarti laju infiltrasi di bawah tegakan lebih besar 10,0107 cm/menit dibanding laju infiltrasi di jalan sarad.  Hal ini tentu saja dikarenakan tanah di jalan sarad lebih padat dibandingkan dibawah tegakan.

Kepadatan tanah di jalan sarad dipengaruhi oleh bebebrapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemadatan tanah diantaranya adalah; pergerakan traktor melewati permukaan tanah akan menghasilkan tekanan ban dan roda atau roda traktor yang cenderung memadatkan lapisan tanah (topsoil). Tingkat kepadatan tanah yang disebabkan oleh Traktor tergantung pada rit yang dilewati traktor, berat traktor, tipe ban dan roda, tekanan ban terhadap tanah, kandungan air tanah, dan kecepatan traktor (Glinski dan Lipiec 1990 dalam Jorge et al. 1992 dalam Wilson 2006).

BAB IV

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum dan pembahasan dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu; peta pohon yang dibuat masih belum memberikan informasi secara lengkap, terutama mengenai jalur survei dan topografi atau kontur; perencanaan jalan sarad seharusnya meminimalkan belokan atau dibuat lurus sesuai dengan yang ada di pedoman pemanenan dengan metode RIL (Reduced Impact Logging), untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan perencanaan arah rebah harus melihat kondisi vegetasi di sekitarnya dan atau komponen ekosistem hutan lainnya; dalam proses penebangan pembuatan takik rebah disesuaikan dengan diamter batang yang akan ditebang dan diusahakan serendah mungkin guna meningkatkan efisiensi pemanenan kayu; perencanaan pembukaan wilayah hutan yang dilakukan di arboretum Fahutan tergolong tidak baik karena hanya dapat dapat mencapai keterlayanan jalan sebesar 25%; dampak penebangan yang paling besar adalah di zona I. Sedangkan dampak paling ringan terletak di zona III. Sementara itu, dampak penyaradan yang paling mudah untuk diidentifikasi adalah dampak terhadap tanah, yaitu berupa pemadatan tanah yang akan mempengaruhi laju infiltrasi. Laju infiltrasi di jalan sarad lebih rendah dibandingkan dengan laju infiltrasi di bawah tegakan, yakni dengan selisih laju mencapai 10,0107 cm/menit.

DAFTAR PUSTAKA

[Anonim]. 2009. Pemetaan hutan dan sistem informasi geografis. www.google.co.id./pemetaan hutan.fostpedia.mht. [29 Desember 2009]

[Anonim]. 2009. Pembukaan wilayah hutan. www.google.co.id/pembukaan wilayah hutan.forestpedia.htm, [30 Desember 2009].

Dephutbun [Departemen Kehutanan dan Perkebunan]. 2004. Prinsip dan Praktek Pemanenan Hutan di Indonesia. Jakarta: Departemen Kehutanan dan Perkebunan Indonesia.

Elias. 2008. Pembukaan Wilayah Hutan. Bogor: IPB Press.

Elias, Applegate G, Kartawinata K, Machfudh, Klassen A. 2001. Pedoman Reduced Impact Logging Indonesia. Jakarta: CIFOR.

Hartono AV. 2008. Teknik dan prestasi kerja pemanenan kayu di hutan rakyat (Studi kasus Kecamatan Cigudeg, Bogor, Jawa Barat). ).[Skripsi] Bogor: Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Indriyati K. 2002. Evaluasi jaringan jalan dan daya dukung tanah badan jalan hutan (Studi kasus di BKPH Cikawang, KPH Indramayu, PT Perhutani unit III Jawa Barat). ).[Skripsi] Bogor: Departemen Teknologi Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Iskandar C. 2000. Pemanenan kayu dengan sistem forwarder. [skripsi]. Bogor : Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Matikainen M. 2000. Petunjuk Teknis Survei Pohon dan Topografi. Berau: Berau Forest Management Project Inhutani.

Muhdi. 2002. Penyaradan kayu dengan sistem kuda-kuda di hutan rawa gambut (Studi kasus di areal HPH PT Kurnia Musi Plywood Industrila co.ltd, Propinsi Sumatera Selatan). www.usu.ac.id/usulibrary/penyaradan.pdf. [29 Desember 2009].

______. 2005. Pengaruh penyaradan kayu dengan traktor terhadap pemadatan tanah di Kalimantan Barat. www.usu.ac.id/e-USU repository/pemadatan tanah.pdf. [ 29 Desember 2009].

Muhdi,  Hanafiah DS. 2007. Dampak pemanenan kayu berdampak rendah terhadap kerusakan tegakan tinggal di hutan alam (Studi kasus di areal HPH PT Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat). Jurnal Ilmu-ilmu Pertannian Indonesia 9 (1): 32-39.

Nasution AK. 2009. Keterbukaan areal dan kerusakan tegakan tinggal akibat kegiatan penebangan dan penyaradan (Studi kasus di PT Austral Byna, Kalimantan Tengah. [skripsi]. Bogor: Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Purba TP. 2006. Model Infiltrasi di Bekas Jalan Sarad (Studi kasus di HPHTI PT. Musi Hutan Persada Wilayah II Benakat, Sumatera Selatan).[Skripsi] Bogor: Departemen Hasil Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Radiardi I. 2008. Evaluasi Tegakan Tinggal Pasca Penebangan pada Areal Hutan yang Menggunakan Sistem Silvikultur Intensif (Silin) (Kasus di Konsesi Hutan PT Sarmiento PaBorakantja Timber, Kalimantan Tengah). [Skripsi]. Bogor: Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Suhartana S, Yuniawati. 2005. Meningkatkan produksi kayu pinus melalui penebangan serendah mungkin : Studi kasus di KPH Sumedang, Perum Perhutani unit III Jawa Barat. Info Hasil Hutan 11 (2): 87-96.

Wackerman AE. 1949. Harvesting Tember Crops 1st edition. New York : McGraw-Hill Book Company, Inc.

Wilson E. 2006. Kepadatan tanah akibat penyaradan oleh forwrder dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan semai: Studi kasus di HPHTI PT Musi Hutan Persada Sumatera Selatan. [Skripsi]. Bogor: Departemen Hasil  Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Yuniawati. 2005. Beban kerja, keselamatan dan kesehatan kerja dalam pemanenan hutan. Info Hasil Hutan 11 (2): 129-137.

About these ads
Kategori:karya ilmiah Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: